Untukmewujudkan program kampung hijau ini dibutuhkan peran serta tiap elemen masyarakat dengan harapan hasil yang maksimal dari gerakan ini. Program kampung hijau dilakukan dengan beberapa cara yang berfungsi mengembalikan fungsi lingkungan yang telah rusak akibat permukiman kumuh. Komponen yang meliputi dari program kampung hijau ini yaitu pengolahan limbah rumah tangga, kebersihan dan keteduhan, menciptakan ruang terbuka hijau semaksimal mungkin, dan meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan. KampungHijau Gambiran digagas oleh Agus Susanto, salah seorang warga setempat. Pada tahun dan 2007, ada bencana banjir di kawasan tersebut. KampungGOJEK merupakan inisiasi yang di bentuk secara mandiri oleh mitra driver GOJEK dalam mengajak warganya untuk bisa hidup Mandiri, Bersih dan Sehat. Kampung Gojek yang berada di jalan Dahlia, Kecamatan Mariso, Makassar, diresmikan kemarin (27/4). Taksalah kampung tersebut dinamai Kampung Hijau, karena lingkungannya benar-benar indah, bersih, asri serta dipenuhi hijaunya tanaman di kiri-kanan jalan. Rombongan diberi penjelasan yang cukup lengkap tentang proses penghijauan, pengolahan sampah menjadi pupuk, adanya rumah kreatif dan penghuni di kampung tersebut. Dibalikmacet, banjir serta polusi di Jakarta, ternyata ada hal unik di Jakarta yang lain daripada yang lainnya yaitu Kampung Hijau. Dengan tempatnya yang dipenuhi oleh tanaman dan tumbuhan buah-buahan maupun sayuran, warga selalu rutin mengadakan kerja bakti selama dua minggu sekali di hari jumat, yang diberi nama jumat bersih. Dok: Reportase Trans TV Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. Kampung Gintung, Kota Malang, Jawa Timur, terkenal dengan kampung yang kumuh, langganan banjir dan bermasalah dengan sanitasi. Pada 2012, sang ketua RW, Bambang Irianto mengajak Sutiaji, Wali Kota Malang, menggerakkan warga agar peduli lingkungan. Pakar pengairan membantu Bambang. Sumur injeksi dan biopori mereka bangun. Ketua RW mewajibkan warga menanam dan bergotong rotong. Cibiran datang dari sebagian warga. Mereka yang tak mau ikut menanam dan gotong royong kena sanksi tak mendapatkan pelayanan seperti pengurusan surat menyurat. Air hujan berhasil mereka tabung. Mereka kaya air. Kala melihat manfaat, warga berbalik mendukung. Kini, kala hujan tak banjir, air bersih melimpah, bahkan sampai ke desa sebelah. Desa hijau dengan beragam tanaman hias dan sayur mayur, bahkan menjadi tujuan wisatawan, para peneliti dan lain-lain. Kala itu, Sutiaji, Wakil Wali Kota Malang, bersama warga membersihkan selokan dan saluran air di RW23 Kelurahan Purwantoro, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Kampung Glintung, biasa orang menyebut lokasi ini. Pada pertengahan 2013 itu, Sutiaji, berbaur bergotong-royong dengan warga, setelah banjir melanda. Kampung tak jauh dari pusat pemerintahan ini dikenal kumuh dan langganan banjir serta sanitasi buruk. Kini, Sutiaji, terpilih sebagai Wali Kota Malang, menggantikan Mochammad Anton. Bambang Irianto, sebagai Ketua RW23 pada 2012, mengajak Sutiaji, menggerakkan warga agar peduli lingkungan. Biasa, usai banjir, warga Kampung Glintung, harus bekerja ekstra mengepel dan membersihkan rumah dan bergotong royong membersihkan sungai mengatasi banjir. “Saya ikut bersama warga membersihkan sungai,” kata Sutiaji. Baca juga Menabung Air Hujan, Memanfaatkan saat Kemarau Banjir dampak saluran air makin lama makin menyempit. Perkampungan warga juga makin padat. Sejumlah bangunan berdiri di bantaran dan drainase jadi penyebab banjir. Sejak terpilih sebagai Ketua RW enam tahun lalu, Bambang memaparkan konsep membangun Glintung, menjadi kampung wisata. Termasuk konsep menabung air, untuk mengindari banjir yang mampir saban musim hujan. Saat itu, banyak yang mencibir dan menuding dia gila. Saat banjir, sandal dan sepatu warga juga hanyut ke selokan maupun sungai. Masalah itu timbul sejak puluhan tahun. “Kalau hujan alamat banjir. Air sampai sepaha orang dewasa,” kata Jaying, yang tinggal di Kampung Glintung sejak 1964. Membersihkan sungai, ternyata tak memberi dampak signifikan mengatasi banjir. Bambang menggandeng Profesor Muhammad Bisri, saat itu, Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang. Bambang menceritakan, masalah banjir yang menghantui warga. Gayung bersambut. Bisri merancang sumur injeksi. Seluruh biaya ditanggung Universitas Brawijaya, sedangkan pengerjaan bergotong royong dengan warga. Tahap awal, warga bersama Bisri menentukan titik yang harus dibangun sumur injeksi. Pakar pengairan ini menghitung, seharusnya di Malang, terbangun ribuan sumur injeksi untuk mengendalikan banjir. Sebagai daerah dataran tinggi, banjir di Malang, terjadi karena permasalahan drainase. Air hujan tak bisa terserap langsung ke tanah, ruang terbuka hijau berkurang berganti bangunan. Air mengalir tak terarah, selokan dan drainase tak bisa menampung seluruh air hujan. Kondisi ini, katanya, menimbulkan banjir di titik tertentu. Menurut dia, sumur injeksi juga berfungsi menampung air tanah. Selama ini, air tanah disedot besar-besaran untuk kepentingan industri, perhotelan dan perumahan. Konstruksi sumur resapan berbeda dengan sumur injeksi,” katanya. Kalau sumur resapan berdiameter satu meter dengan kedalaman sekitar 5-6 meter. Sumur injeksi minimal 20-25 meter berdiameter sekitar enam meter. Lapisan bawah ditata batu dan kerikil. Saat ini, baru dibangun ada 30 sumur injeksi di Kota Malang. Salah satu di sekitar Masjid Jami’ Alun-alun Kota Malang. Konstruksi membangun satu sumur injeksi perlu dana sekitar Rp400 juta. Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan, baju putih bersama Bambang Irianto, Ketua RW23, berlatar tanaman hias. Foto Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Banjir hilang, muncul sumber air Menurut Bisri, pengambilan air bawah dengan sistem sumur artesis di Kota Malang, makin menjamur. Air tanah terus terkuras. Kalau dibiarkan tanpa diimbangi konservasi, bisa menyebabkan penurunan muka tanah land subsidence.”Perlu konservasi air, salah satu sumur injeksi,” katanya. Di Kampung Glintung, dibangun tujuh sumur injeksi. Ia menampung sekitar liter air. Kampung Glintung juga membangun biopori di sejumlah ruas jalan. Mereka membangun lubang biopori diameter 10-30 centimeter sedalam 80-100 centimeter. Lubang terbuat dari bekas kaleng cat hingga tak memerlukan modal. Di dalam biopori dimasukkan sampah organik hingga terjadi proses pengomposan. Air terserap tanah, kompos bisa untuk pupuk tanaman. Di kampung berpenduduk 480 keluarga ini memiliki 700 lubang biopori. Ia mampu menampung sekitar liter air. Mereka menamakan gerakan menabung air gemar atau Water Banking Movement. Awalnya tak mudah, kata Bambang, banyak penolakan. Warga sebagian besar bekerja sebagai buruh pabrik, pekerja swasta, dan wirausaha menolak iuran karena biaya besar. Bambang tak menyerah, dia berusaha mengubah pola pikir membangun permukiman kumuh dan tak sehat, menjadi kampung sejuk, indah dan sehat. Gerakan menabung air telah mendapatkan hasil, sumur warga tak pernah kering. Bahkan, menabung air dipanen warga RW5, terletak di sebelahnya, muncul sumber air di perkampungan itu. Sumber air keluar dari celah paving. Warga senang, namun ada yang was-was. Khawatir air keluar muncul di dalam rumah warga. Sejumlah pakar geologi meneliti fenomena ini guna memastikan sumber air muncul karena konservasi air di Kampung Glintung. Aneka tanaman hias dan bunga berjejer di dinding lorong masuk Kampung Glintung. Foto Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Taman dan pertanian tengah kota Setelah dibangun sumur injeksi, dia meminta warga menanam apa saja. Kalau warga menolak, tak akan dilayani saat mengurus administrasi. “Stempel RW jadi alat paksa,” kata Bambang. Lambat laun masyarakat sadar. Warga menggunakan kaleng bekas dan botol air mineral untuk pot bunga. Tanaman diambil dari tepi sungai. “Tanaman apa saja asal hijau.” Sebagian warga yang menolak juga mulai malu. Mereka menyadari, kalau kini kampung bersih, hijau dan segar. Mereka memanfaatkan barang bekas untuk menciptakan vertical garden maupun urban farming. Botol minuman, kaleng cat, kloset jongkong jadi pot bunga. Mereka tak harus modal besar untuk menciptakan kampung sejuk dan tenang. Saat masuk gang, pemandangan hijau mennyambut. Sebuah pergola berisi tanaman hias memanjakan mata. Vertical garden berisi aneka tanaman hias berjejer di dinding sepanjang gang. Bunga warna-warni jadi keindahan tersendiri saat menjejakkan kaki di Kampung Glintung yang belakangan terkenal dengan sebutan Kampung 3G Glintung Go Green. Bahkan dinding di gang sebagai area urban farming. Aneka jenis sayuran ditanam, warga memanen untuk kebutuhan sehari-hari. Setiap sore, otomatis air mengalir menyirami tanaman. Betah berlama-lama. Malang, terasa lebih dingin dan menyenangkan. *** Zainul Arifin, warga RW23 Kelurahan Purwantoro, Blimbing, Kota Malang, berkutat dengan tumpukan batang dan plat besi. Dia tampak telaten mengelas, lalu menyambung dan merangkai jadi vertical garden. Zainul, salah satu warga Kampung Glintung. Mereka bergotong-royong menata taman, aneka bunga dan kebun sayur di perkampungan yang terletak di tengah Kota Malang ini. Vertical garden dikerjakan bersama-sama. Mereka menyumbang tenaga mewujudkan kampung hijau. Zainul bangga, bisa memberikan sumbangsih untuk kampung. Awalnya, dia termasuk warga yang enggan berbaur untuk kerja bakti dan gotong royong. Bambang mewajibkan, warga kerja bhakti menata kampung saban akhir pekan. Warga memeriksa dan merawat tanaman hias yang ditanam di depan rumah. Foto Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Awalnya Zainul, memilih tetap bekerja. Rutin saban hari dia keluar rumah berangkat pagi dan pula sore. Saat tetangga kerja bakti, dia menuntun motor keluar gang berangkat bekerja. Setahun kemudian anaknya lahir, dia memerlukan surat pegantar Ketua RW untuk mengurus akta kelahiran anak keduanya. Bambang menolak. Surat pengantar untuk akta kelahiran bakal diberikan setelah Zainul, bersedia ikut kerja bakti.“Baru saya sadar, dan ikut kerja bakti,” katanya. Kini, dia salah seorang warga paling aktif kerja bakti. Warga memberikan julukan “Iron Man” lantaran selalu berkutat dengan besi. Mengolah besi rongsokan menjadi keranjang tanaman maupun kerangka pot, misal, sepeda bekas, dia olah menjadi hiasan sekaligus kerangka pot bunga. Unik, menarik dan memiliki manfaat. Dia mengerjakan di sela-sela mengelas mulai matahari terbenam sampai matahari terbit. Zainul dengan warga sekitar rumah yang bekerja malam hari dikenal dengan sebutan “suku dalu” atau suku malam. Kini, mereka tulang punggung untuk mengerjakan aneka struktur berbahan besi guna menghijaukan Kampung Glintung. Termasuk melayani pemesanan dari sejumlah kampung di daerah lain yang ingin membuat vertical garden maupun urban farming. Kelompok tani, tak sekadar menanam tanaman konvensional. Mereka juga mengolah hasil pertanian. Mereka mengembangkan agro inovasi. Kini dibentuk badan hukum untuk kelompok tani ini. Mereka menanam sayuran dengan sistem hidroponik. Total tiga green house bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan pertanian di perkotaan. Raymond Valiant Ruritan, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, berkeliling Kampung Glintung. Hasil pengamatan dan penelitian, sungai di kampung itu bisa menjadi pembangkit listrik tenaga mikrohidro. “Sungai kecil lahan terbatas. Kira-kira menghasilkan Watt,” katanya. Gerakan warga Kampung Glintung, merupakan kearifan lokal yang harus didukung. Perum Jasa Tirta I, salah satu BUMN operator Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo, akan memfasilitasi warga. Jasa Tirta, katanya, akan membiayai seluruh desain, perencanaan, konstruksi dan biaya lain. Listrik untuk kepentingan publik. Direktur Utama Perum Jasa Tirta 1, Raymond Valiant Ruritan baju putih bersama Bambang Irianto memeriksa sumur injeksi di Kampung Glintung. Foto Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Berwisata ke Kampung Glintung Kini, Kampung Glintung jadi obyek wisata. Wisatawan dari mancanegara dan domestik berdatangan. Mereka ingin belajar konservasi air, urban farming dengan memanfaatkan lahan sempit di perkotaan, penataan kampung dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Sampai saat ini, orang berkunjung ke Kampung Glintung. Untuk mengoptimalkan program itu, dibentuk pusat pelatihan dikelola dengan sistem manajemen moderen. Setiap rombongan antara 10-20 orang, berbayar Rp1,5 juta. Kalau rombongan kurang 10 orang biaya Rp 1 juta. Dalam sepekan, antara dua sampai tiga rombongan datang ke Kampung Glintung. Ada akademisi untuk penelitian, lembaga pemerintah, kelompok masyarakat, perusahaan swasta, dan pelatihan bertani bagi karyawan menjelang pensiun. Untuk penelitian juga kena biaya tertentu. Penelitian skripsi Rp1 juta, tesis Rp5 juta, dan disertasi Rp10 juta. Meski berbayar, banyak mahasiswa dan dosen penelitian di Glintung. “Kampung tak hanya jadi obyek penelitian. Mencari ilmu di kampung tetapi berbayar,” kata Bambang. Dibangun sebuah pendapa untuk proses pelatihan. Pelatihan juga menguntungkan warga yang menyediakan homestay untuk para tamu dan makanan. Pedagang makanan dan minuman juga diuntungkan. Perekonomian warga berkembang. Seluruh hasil usaha terkumpul masuk ke kas RW. Hasilnya, kas RW mencapai ratusan juta. Sekretaris Eksekutif Training Center Glintung, Soetopo mengatakan, untuk memperkuat ekonomi masyarakat juga dibangun koperasi. Kini, aset dan uang berputar di koperasi mencapai Rp400 juta. Sebanyak 200 anggota memanfaatkan dana koperasi untuk simpan pinjam. Atas terobosan ini, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, meresmikan kampung konservasi Glintung Go Green 3G. Tjahjo membubuhkan tanda tangan di atas prasasti sebagai bentuk peresmian kampung korservasi di kawasan perkotaan itu. Kampung Glintung juga masuk nominasi lima besar dalam Guangzhou International Award for Urban Innovation 2016. Bambang juga mendapat kalpataru dan penghargaan sebagai 72 ikon berprestasi Indonesia yang diberikan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila sekarang bernama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. “Sejak 2012, ada peraturan daerah tentang bangunan. Isinya, mewajibkan pengembang membangun sumur resapan,” kata Sutiaji. Lantaran perumahan sudah mengurangi ruang terbuka hijau. Air tak terserap tanah, tetapi menggenang menyebabkan banjir. Bagi yang tak bikin sumur resapan kena sanksi administrasi sesuai kesalahan. Sanksi terberat, pemerintah mengeluarkan catatan hitam bagi pengembang dan tak bisa mengajukan izin membangun perumahan di Kota Malang. “Administratif saja, sanksi belum diterapkan. Sudah disampaikan ke pengembang,” kata Sutiaji. Keterangan foto utama Aneka tanaman hias dan bunga berjejer di dinding lorong masuk Kampung Glintung. Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Artikel yang diterbitkan oleh Warga Kampung Hijau Berseri membersihkan wilayah tempat tinggal mereka. - Suasana hijau terlihat di setiap rumah di Kampung Hijau Berseri RT 10 dan 11 RW 03, Kelurahan Cempaka Putih Timur. Pasalnya, mereka menanam beberapa tumbuhan di sana. Selain itu, pergola besi dengan tanaman rambat juga semakin menambah keasrian wilayah tersebut. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun memberikan apresiasi kepada Kampung Hijau Berseri, saat merayakan Hari Peduli Sampah Nasional HPSN 2020 di wilayah tersebut. Anies berinteraksi langsung dengan warga yang mengelola sampah sendiri, sebelum sisa sampah tak terproses dibuang ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu TPST. “Kami sangat mengapresiasi langkah masyarakat yang telah mengelola sampah di lingkungan masing-masing. Harus kita bangun perubahan mindset. Dalam semua kegiatan ada yang kita ambil gunakan, ada yang sisa atau residu. Mari bersama kita kurangi, pilah, olah sampah di sekitar kita" kata Anies dalam sambutannya. Kampung Hijau Berseri juga dinobatkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai RW percontohan yang telah mengurangi sampah dari tingkat rumah tangga melalui program yang digulirkan Pemprov, yakni SAMTAMA atau Sampah Tanggung Jawab Bersama. Kampung hijau di Jakarta ini merupakan karya warga setempat berkolaborasi dengan PT Pertamina Persero melalui Marketing Operation Region MOR III. Sebagai kampung percontohan, di setiap sudut gang terdapat tempat sampah meyerupai kandang dengan ram kawat yang berisi aneka botol plastik bekas kemasan minuman, pelumas, pembersih lantai, sabun dll. Tempat tersebut merupakan penampungan sementara kegiatan shodaqoh plastik bagi warga yang telah memilah sampah plastik rumah tangga. Seminggu sekali, warga memilah botol dengan memisahkan tutup, mengelupas plastik merek kemasan, dan di tekan dengan tangan untuk selanjutnya dikumpulkan dalam karung besar kemudian diambil pengumpul limbah plastik. Menurut Dedy, Ketua RT 11, kegiatan tersebut rutin dilakukan oleh warga yang sudah beberapa tahun belakangan ini sadar memilah sampah dari rumah. “Masing-masing RT ada kelompoknya, nanti uang hasil penjualan digunakan untuk kegiatan sosial warga. Konsepnya bukan bank sampah, tetapi menyumbang atau shodaqoh sampah agar warga merasa berkontribusi untuk penghijauan dan juga pengelolaan lingkungan kampung hijau dengan sampah,” jelas Dedy. Selain sampah plastik, sampah rumah organik juga dipisahkan untuk diolah menjadi kompos menggunakan komposter. Ada juga pengolahan sampah organik menjadi kompos dengan memanfaatkan larva lalat jenis Black Soldier Fly, dikenal dengan metode maggot. Kompos digunakan untuk pupuk tanaman milik warga. “Program ini merupakan bagian dari program Bina Lingkungan Pertamina yang bekelanjutan, serta dukungan kami terhadap upaya-upaya pengelolaan sampah rumah tangga yang telah dilakukan warga. Tentunya dapat menambah asri kampung, serta yang utama sebagai sarana edukasi bagi warga lain yang mengunjungi Kampung Hijau Berseri sebagai kampung percontohan”, pungkas Dewi Sri Utami selaku Unit Manager Communication & CSR - MOR III. Pertamina berharap, dengan adanya kampanye pengelolaan sampah yang dilakukan warga melalui mural, dapat mendukung penyebaran upaya positif kelompok masyarakat yang layak diapresiasi dan dicontoh dalam mengelola sampah yang diawali dari masing-masing rumah tangga. PROMOTED CONTENT Video Pilihan Menjadi salah satu kampung percontohan Kota Surabaya Peta dari KBA keputih Tegal Timur Baru, Surabaya. dok. Pribadi/Dahli Anggara Hampir semua warga Surabaya tahu bahwa Keputih merupakan wilayah yang dulunya dijadikan pusat pembuangan sampah dan limbah. Yup, kampung bernama Keputih Tegal Timur Baru memang pernah menjadi zona yang jauh dari kata bersih, indah, dan nyaman. Bahkan, pada saat itu, kualitas udara di wilayah tersebut dianggap tidak layak karena bau sampah yang kini anggapan akan hal tersebut berubah dan perlahan sirna. Pasalnya, sejak 2013 lalu, warga Keputih Tegal Timur Baru melakukan banyak hal untuk mengubah kampung mereka menjadi lebih asri, bersih, hijau, dan layak ditinggali. Sebuah program bernama Kampung Berseri Astra KBA telah dijalankan selama 8 tahun dan tentunya tak lepas dari kerja sama antara Astra Indonesia dan warga Keputih Tegal Timur berkesempatan hadir di KBA Keputih dan melihat betapa kampung tersebut sudah sangat berubah jika dibandingkan pada era 2000-an. Nah, tentunya kamu penasaran dengan perubahan yang dialami warga kampung Keputih, bukan? Yuk, simak artikelnya!1. Dari wilayah berbau tak sedap menjadi kampung percontohan di SurabayaWilayah Keputih Tegal Timur Baru yang sudah menjadi hijau dan layak untuk ditinggali. dok. Pribadi/Dahli AnggaraJelas bahwa Keputih Tegal Timur Baru di area RW. 08, khususnya RT. 03, 04, dan 08 sudah menjadi sebuah wilayah hijau yang jauh dari kata kumuh, jorok, kotor, dan bau sampah. Tak ada lagi jejak-jejak tumpukan sampah layaknya 15 hingga 20 tahun yang lalu. Bahkan, perasaan pangling segera menyelimuti penulis manakala penulis memasuki gang-gang di KBA Keputih Tegal Timur 19 Desember 2021, pukul WIB, penulis disambut oleh Bapak Sutikto selaku ketua KBA Keputih. Sambil berkeliling kampung, Pak Tikto-begitu panggilan akrabnya-menceritakan asal mula bagaimana Astra Indonesia memilih Keputih sebagai salah satu wilayah yang akan dimasukkan program Kampung Berseri Astra di antusiasme warga Keputih yang begitu tinggi, ditambah dengan segala potensi yang ada, akhirnya pihak Astra Indonesia memutuskan untuk memilih Keputih Tegal Timur Baru sebagai salah satu KBA dari banyak kampung terpilih di seluruh Indonesia. Pada 2013, program tersebut dimulai dan setahun kemudian, beberapa fasilitas penunjang didirikan di kampung ini. "Warga kami memang punya tekad dan antusiasme tinggi terhadap lingkungan yang bersih dan layak untuk ditinggali. Jadi, kami menyambut baik program yang dicanangkan oleh Astra," ujar Pak Tikto sembari tersenyum bangga. Kini, area RW. 08, khususnya di wilayah RT. 03, 04, dan 08 pun tampak asri dan hijau. Tak ada lagi bau sampah menyengat. Di berbagai pojok kampung juga terdapat tempat cuci tangan beserta hand sanitizer sebagai bagian dari kelengkapan protokol kesehatan di era pandemik COVID-19. Tak mengherankan, KBA Keputih Tegal Timur Baru kini sudah menjadi salah satu percontohan bagi kampung-kampung Punya fasilitas yang ditunjang pihak akademisiRumah Pintar Astra merupakan salah satu fasilitas edukasi masyarakat. dok. Pribadi/Dahli AnggaraSalah satu fasilitas yang ada di KBA Keputih Tegal Timur Baru adalah Rumah Pintar Astra yang dibuat untuk berbagai tujuan edukasi. Bahkan, tak jarang beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga menyempatkan melakukan Kuliah Kerja Nyata atau KKN dan kegiatan-kegiatan edukatif di sana. "Karena fasilitasnya lengkap, tempat ini juga dijadikan wadah bagi anak-anak sekolah yang melakukan belajar online di kala pandemik," jelas Pak Tikto sembari mengenalkan berbagai ruangan di dalamnya. Hebatnya lagi, antusiasme dan peran serta warga di kampung ini begitu tinggi. Mereka sangat mendukung dan berperan aktif dalam memajukan kampung mereka dengan hal-hal yang mengedukasi masyarakat. Menurut Pak Tikto, Rumah Pintar Astra mulai dibangun sejak program KBA berlangsung dan kala itu sempat diresmikan oleh Ibu Negara pada 2014, serta oleh Menteri Sosial pada 2017. "Meskipun butuh perjuangan dalam mewujudkan kampung bersih dan hijau, warga di sini tetap semangat dalam membuktikan bahwa kami bisa melakukannya," ujar Pak Tikto bangga. Well, penulis pun turut senang dan bangga terhadap warga Keputih Tegal Kampung Timur. Pasalnya, apa yang penulis lihat dan rasakan secara langsung sangatlah berbeda jika dibandingkan pada era 2000-an, di mana Keputih masih dijadikan tempat pembuangan sampah dan Pupuk kompos jadi produk unggulanPupuk kompos kemasan 5 kilogram yang diproduksi oleh KBA Keputih. dok. Pribadi/Dahli AnggaraMengolah dan mengelola limbah daun-daun kering menjadi pupuk olahan tentunya tidak mudah, apalagi jika dilakukan dalam skala industri kecil. Nah, uniknya, warga Keputih Tegal Timur Baru bisa melakukannya dan mereka sudah sanggup menghasilkan produk unggulan kampung, yakni pupuk kompos untuk suplai bagi pelaku usaha agrikultura. "Dalam seminggu, kami bisa memproduksi 100 kemasan, di mana masing-masing kemasan punya kapasitas 5 kilogram," jelas Pak Tikto kembali. Ada dua bahan utama yang diterima oleh warga, yakni daun kering dan plastik bekas. Limbah daun kering tentu akan diolah dan dikelola menjadi pupuk kompos berkualitas bagus. Sementara, sampah plastik akan dipisah di Bank Sampah dan disetorkan pada pihak-pihak yang mendaur ulang dari penjualan pupuk kompos tersebut tentu bisa menjadi modal dan tambahan bagi kas kampung. Pada intinya, semua kegiatan produktif di kampung ini dilaksanakan oleh warga dan hasilnya pun juga dinikmati untuk kesejahteraan warga. Baca Juga KBA Indah Madani, Kampung Hijau di Tengah Kota Minyak! 4. Memberdayakan warga untuk menjadi kreatif dan mandiriTempat industri kecil pengolahan limbah menjadi pupuk kompos. dok. Pribadi/Dahli Anggara "Semua produksi yang ada di kampung ini dilakukan atas dasar kreativitas warga berkat dukungan pihak Astra," kata Pak Tikto sembari memperagakan bagaimana mengoperasikan alat-alat pembuat pupuk. Sebuah tempat sekelas industri kecil bernama Rumah Kompos selalu aktif dari Senin hingga Sabtu. Ya, warga di kampung ini terbilang sangat kreatif dan mandiri jika dikaitkan dengan berbagai macam kegiatan produktif yang menghasilkan. Nah, salah satunya adalah pupuk kompos yang sudah dibahas di atas dukungan penuh dari pihak Astra Indonesia, warga bisa terus mengolah dan memproduksi banyak hal yang tentunya berdampak positif bagi kas kampung. Sebuah wilayah yang tadinya kumuh dan hanya dijadikan tujuan pembuangan sampah, kini sudah menjadi area yang bangga dengan tajuk Green and Bercocok tanam pun dilakukan dengan seriusBerbagai tanaman yang ditanam oleh warga sebagai bagian dari program penghijauan. dok. Pribadi/Dahli AnggaraMenurut ketua RT. 04, Bapak Supriadi, antusiasme warga Keputih Tegal Timur Baru tidak hanya di bidang produksi saja. Mereka juga aktif bercocok tanam dan membudidayakan ikan lele sebagai bagian program rutin warga. Ada berbagai tanaman yang ditanam oleh warga dan tentunya itu berdampak positif bagi lingkungan yang makin hijau. "Selain produksi kompos, warga di sini juga aktif dalam bercocok tanam dan bahkan membudidayakan ikan lele," terang Pak Supriadi pada penulis. Bukan hanya bercocok tanam yang asal-asalan. Namun, warga bahkan membuat saluran-saluran air yang kompleks dan ini membuktikan bahwa apa yang dilakukan sudah profesional. Tak lupa, penanaman yang dilakukan warga juga telah berkontribusi dalam kondisi lingkungan yang makin hijau dan di seluruh rumah warga terdapat tanaman yang menyejukkan. Tak ada lagi kondisi gersang yang bau, sebab kini, semuanya berubah 180 derajat jadi lebih baik berkat peran serta warga dan dukungan Astra Indonesia melalui program Kampung Berseri Harapan warga KBA Keputih Tegal Timur BaruIkon kampung yang dibuat sebagai harapan warga di masa depan. dok. Pribadi/Dahli Anggara "Meskipun belum terwujud, ikon kampung berupa patung ikan sudah kami buat untuk menggambarkan betapa kami punya harapan di masa depan," ujar Pak Tikto sembari menerangkan harapan apa saja yang ingin dicapai. Ya, warga di KBA Keputih Tegal Timur Baru memang punya harapan yang tak muluk-muluk. Mereka menginginkan adanya dermaga kecil untuk dijadikan akses pariwisata ke hutan bakau atau mangrove yang ada di sekitar kampung. Dengan adanya dermaga kecil ini, wisatawan lokal bisa melakukan perjalanan menyusuri sungai yang ada di kawasan hutan bakau. "Belum lagi jika ada orang-orang dari krematorium yang akan melarung abu jenazah ke sungai, keberadaan dermaga pasti sangat membantu mereka karena akses satu-satunya ya hanya di kampung ini," jelas pak Tikto kembali. Memang, tak jauh dari Keputih Tegal Timur Baru terdapat sebuah krematorium dan menurut Pak Tikto, kebanyakan orang akan melarungkan abu jenazah keluarganya di sungai yang alirannya sangat dekat dengan laut. Nah, semoga apa yang diharapkan dan dicita-citakan oleh Pak Tikto, Pak Supriadi, dan warga Keputih Tegal Timur Baru dapat terwujud di masa yang akan Dukungan Astra Indonesia untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan asriPetunjuk arah yang ada di wilayah KBA Keputih Tegal Timur Baru. dok. Pribadi/Dahli AnggaraWilayah Keputih Tegal Timur Baru yang berada di Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya, adalah salah satu bukti bahwa kerja sama antara Astra Indonesia dan warga sanggup menciptakan sebuah lingkungan yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Astra juga memberikan dukungan penuh berupa modal dan segala fasilitas yang dibutuhkan oleh Keputih yang awalnya kumuh, bau, kotor, dan dipenuhi dengan gunungan sampah, kini berubah total menjadi kampung yang asri, hijau, bersih, dan layak untuk ditinggali. Fasilitas macam Rumah Pintar, Bank Sampah, Rumah Kompos, Kebun Toga, WTP, Toilet Komunal, dan Sarana Olahraga menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas warga yang sudah sadar akan pentingnya hidup Indonesia pun sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan warga KBA Keputih Tegal Timur Baru dan sudah memiliki berbagai macam program rutin setiap tahunnya. Well, terima kasih kepada Astra Indonesia dan semoga apa yang diharapkan oleh warga Keputih Tegal Timur Baru bisa terwujud di masa depan. Baca Juga KBA Cengkareng Timur dan Antusias Warga Rawat Lingkungan Bersama IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis. Berita Terkini Lainnya Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sebagai negara yang sedang berkembang Indonesia tentu memiliki masalah-masalah kependudukan yang terjadi seperti yang dialami oleh negara-negara berkembang lainnya. Salah satu masalah kependudukan yang dialami oleh Indonesia sejak lama adalah masalah permukiman kumuh yang terjadi di beberapa kota di Indonesia. Permukiman kumuh lahir dari adanya ketidakmerataan persebaran penduduk yang terjadi di suatu wilayah. Suatu permukiman dikatakan kumuh ketika lingkungan sekitar permukiman sudah mulai terganggu akibat banyaknya pemukim yang menempati wilayah kumuh yang terjadi di Indonesia biasanya terjadi di kota-kota urban yang menjadi tujuan para pendatang dari daerah desa untuk mendapatkan pekerjaan dan lain-lain seperti kota Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan kota besar lainnya. permukiman kumuh yang biasa ditemui yakni permukiman kumuh di bantaran sungai, di pinggiran rel kereta api, dan permukiman yang tata letak bangunannya tidak beraturan. Oleh sebab itu, pemerintah berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi masalah permukiman kumuh ini. Banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk meminimalisir adanya permukiman kumuh. Akan tetapi, jika ingin benar-benar mengatasi masalah permukiman kumuh ini tidak cukup hanya dengan peran pemerintah. Peran masyarakat juga diperlukan agar masalah ini dapat diatasi secara maksimal, salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat adalah dengan melaksanakan program kampung kampung hijau adalah program untuk melestarikan fungsi lingkungan sekitar agar tetap terjaga kelangsungannya. Untuk mewujudkan program kampung hijau ini dibutuhkan peran serta tiap elemen masyarakat dengan harapan hasil yang maksimal dari gerakan ini. Program kampung hijau dilakukan dengan beberapa cara yang berfungsi mengembalikan fungsi lingkungan yang telah rusak akibat permukiman kumuh. Komponen yang meliputi dari program kampung hijau ini yaitu pengolahan limbah rumah tangga, kebersihan dan keteduhan, menciptakan ruang terbuka hijau semaksimal mungkin, dan meningkatkan kualitas sanitasi upaya keberhasilan program kampung hijau ini, selain niat dari tiap-tiap individu juga memerlukan dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan dalam program ini. Selain itu, komitmen, dedikasi, inisiatif, dan rasa tanggung jawab juga diperlukan dalam melaksanakan program kampung hijau ini guna keberhasilan program yang diharapkan. Oleh karena itu, penerapan program kampung hijau ini tidak hanya dirasakan pada aspek fisik lingkungannya saja, kondisi kesejahteraan dan kesehatan masyarakatnya juga akan meningkat, serta program ini akan semakin menimbulkan rasa perduli terhadap lingkungan sekitar dalam diri masyarakatnya terutama pada generasi kampung hijau membantu masyarakat yang hidup di permukiman kumuh untuk menciptakan keadaan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman. Setidaknya, meskipun permukiman sekitarnya kumuh namun dengan terjaganya kelestarian lingkungan akan tetap membuat kelangsungan alam sekitar tetap terjaga dan terhindar dari ancaman-ancaman yang ditimbulkan akibat permukiman yang kumuh. 1 2 Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya

kampung bersih dan hijau